Friday, July 3, 2009

Survey Mangrove


Survey Mangrove dan Hutan Pantai

Studi struktur dan komposisi mangrove dilakukan dengan menggunakan metode yang merupakan modifikasi dari cara yang digunakan oleh Mueller Dumbois dan Ellenberg (1974).


Pada masing-masing plot berukuran 10 m x 10 m, dilakukan pengambilan data pohon (dbh ≥ 4 cm). Sedangkan untuk data sapling (1 cm ≤ dbh < style="">
5 m dan seedling (anakan) dengan ketinggian <>


Identifikasi spesies vegetasi dilakukan langsung di lapangan dengan mengacu pada Kitamura et. al., (1997)dan Noor, et al., (1999). Jika terdapat keragu-raguan dalam mengidentifikasi spesies tertentu, maka diambil sampel (daun, bunga dan buah) untuk diidentifikasi lebih lanjut dengan mengacu pada Tomlinson (1994).

Gambar 3.4. Peletakan Subplot 1 m x 1 m (Seedling) dan Subplot 5 m x 5 m (Sapling) dalam Plot 10 m x 10 m (Pohon) untuk Vegetasi Mangrove/hutan pantai pada Transek


ñ Pohon

Pada penelitian ini, data pohon (dbh ≥ 4cm) yang diambil dari masing-masing plot 10 m x 10 m berupa spesies, diameter pohon ketinggian pohon dan keterangan lain yang berhubungan seperti ujung pohon patah, pohon ditebang sebagian dan lain-lain. Karena pohon mangrove mempunyai bentuk yang unik, kadangkala menimbulkan kesulitan untuk menentukan posisi pengukuran diameter, maka dengan sedikit modifikasi rekomendasi Cintron dan Novelli (1984) digunakan dalam penelitian ini, yaitu:

1. Apabila batang bercabang di bawah ketinggian sebatas dada (1,3 m) dan masing-masing cabang memiliki diameter ≥ 4 cm maka diukur sebagai dua pohon yang terpisah

2. Apabila percabangan batang berada di atas setinggi dada atau sedikit di atasnya maka diameter diukur pada ukuran setinggi dada atau di bawah cabangnya

3. Apabila batang mempunyai akar tunjang/udara, maka diameter diukur 30 cm di atas tonjolan tertinggi

4. Apabila batang mempunyai batang yang tidak lurus, cabang atau terdapat ketidaknormalan pada point pengukuran maka diameter diambil 30 cm di atas atau di bawah setinggi dada

Ketinggian diukur dari pohon bagian paling bawah yang menyentuh tanah sampai daun yang paling ujung. Data yang diambil tersebut dianalisa untuk diketahui nilai Kerapatan (K), Basal Area (BA), Kerapatan Relatif (KR), Dominasi Relatif (DR), Nilai Penting (NP), Indeks Keanekaragaman (H’) dan Indeks Keseragaman (J’).

ñ Sapling

Sampel sapling berupa vegetasi mangrove yang memiliki diameter batang 1 ≤ dbh <> 1 m. Data yang diambil berupa spesies, diameter batang, ketinggian sapling dan keterangan penting lainnya mengenai individu sapling tersebut. Data yang diambil tersebut kemudian dianalisa untuk diketahui nilai indeksnya. Nilai indeks tersebut antara lain nilai Kerapatan (K), Basal Area (BA), Kerapatan Relatif (KR), Dominasi Relatif (DR), Nilai Penting (NP), Indeks Keanekaragaman (H’) dan Indeks Keseragaman (J’).

ñ Seedling

Sampel seedling berupa vegetasi mangrove dengan ketinggian < style="">data sheet adalah berupa spesies, jumlah spesies dan persentase penutupan terhadap subplot 1m x 1m. Penutupan seedling diklasifikasikan dalam enam kelompok yaitu : <5%,>

Indeks Dominasi Relatif (DR) didapatkan dari persentase penutupan spesies seedling dalam subplot 1m x 1m. Nilai indeks lain yang didapatkan dari data tersebut adalah Kerapatan (K), Kerapatan Relatif (KR), Dominasi Relatif (DR), Nilai Penting (NP), Indeks Keanekaragaman (H’) dan Indeks Keseragaman (J’).

Pengolahan Data

Data pohon yang diambil dari masing-masing lokasi berupa spesies, jumlah dan diameter pohon. Data yang diambil tersebut dianalisa untuk diketahui nilai indeks kerapatan, indeks keanekaragaman dan indeks keseragaman. Data vegetasi dianalisa dengan metode Mueller-Dumbois dan Ellenberg (1974), yaitu meliputi :

· Kerapatan (K)

Kerapatan adalah jumlah individu per unit area (Cintron dan Novelli, 1984).

· Basal Area (BA)

Basal area merupakan penutupan areal hutan mangrove oleh batang pohon. Basal area didapatkan dari pengukuran batang pohon mangrove yang diukur secara melintang (Cintron dan Novelli, 1984). Diameter batang tiap spesies tersebut kemudian diubah menjadi basal area dengan menggunakan rumus :

BA =

Dimana : BA = Basal Area

π = 3,14

D = Diameter batang

· Kerapatan Relatif (KR)

Kerapatan Relatif merupakan prosentase kerapatan masing-masing spesies dalam transek. Nilai kerapatan Relatif didapatkan dengan rumus (English et al., 1997) :

KR = 100% (Kind / Ktot)

Dimana : KR = Kerapatan Relatif

Kind = Kerapatan individu tiap spesies i

Ktot = Kerapatan total individu

· Dominansi Relatif (DR)

Dominansi relatif merupakan prosentase penutupan suatu spesies terhadap suatu areal mangrove yang didapatkan dari nilai basal area untuk spesies pohon dan sapling dengan menggunakan rumus (English et al., 1997) :

DR = 100 % (Bai/BA)

Dimana : DR = Dominansi relatif

Bai = Total basal area tiap spesies ke-i

BA = Basal area dari semua spesies

Untuk kategori seedling, perhitungan DR menggunakan rumus :

DR = 100% ( Coi/Co)

Dimana : DR = Dominansi relatif

Coi = Rata-rata nilai tengah prosentase penutupan tiap spesies ke-i

Co = Total prosentase penutupan dari semua spesies

· Nilai Penting (NP)

Nilai penting diperoleh untuk mengetahui spesies yang mendominasi suatu areal mangrove. Nilai penting ini didapat dengan menjumlahkan nilai kerapatan relatif dan dominansi relatif (Curtis, 1959) :

NP = KR + DR

Dimana : NP = Nilai penting

KR = Kerapatan relatif.

· Indeks Keanekaragaman ( H’)

Indeks Keanekaragaman merupakan karakteristik dari suatu komunitas yang menggambarkan tingkat keanekaragaman spesies dari organisme yang terdapat dalam komunitas tersebut (Odum, 1993). Rumus yang digunakan adalah :

H' = log N - Σ ni log ni

Dimana : H’ = Indeks Shannon-Wienner

N = Jumlah Total Spesies

Kategori menurut Wilhm dan Dorris (1986) :

H’ < 2,303 Keanekaragaman rendah

2,303 - 6,908 Keanekaragaman sedang

H’ > 6,908 Keanekaragaman tinggi

· Indeks Keseragaman (J’)

Indeks Keseragaman spesies merupakan perbandingan antara nilai keanekaragaman dengan Logaritma natural dari jumlah spesies (Odum, 1993), rumusnya:

J’ =

Dimana : H’ = Indeks Shannon-Wienner

S = Jumlah spesies

Menurut Krebs (1989), Indeks Keseragaman berkisar antara 0 - 1, dimana :

J’>0,6 : Keseragaman spesies tinggi

0,4 < style=""> : Keseragaman spesies sedang

J’ < style=""> : Keseragaman spesies rendah.

No comments:

Post a Comment